-= reynaldi.or.id = -
Aceh dalam do’a
Tadi ikutan shallat jum’at di mesjid Pondok Indah. Setelah 3 kali shallat jum’at, baru sekali ini dapat ceramah yang cukup menyejukan berkaitan dengan bencana gempa dan tsunami di Aceh. Ceramah-ceramah sebelumnya, suka mengatakan bahwa “Allah memberi azab di Aceh” atau kalimat seperti itu. Mau nangis rasanya kalau dengar ucapan itu. Mungkin maksud mereka benar, yaitu, Aceh sudah lama jadi ajang perang, jadi ladang ganja, jadi tempat yang tidak nyaman, makanya di kasih azab untuk membenahinya, bagaimana dengan Jakarta yang udah jadi sumber berbagai kemaksiatan dan dosa.
Tapi, kenapa yang kena orang-orang gak berdosa ? Kenapa anak-anak kecil ? Kenapa ibu-ibu kehilangan suami, anak, keluarganya ? Kenapa gak GAM sekalian yang diberi azab, atau yang punya ladang ganja yang dihantam. Bahkan pada hari jum’at (tanggal 31 Desember 2004) kemarin waktu saya shallat di mesjid dekat rumah mertua ada penceramah yang mengatakan “Saat bencana datang, mereka teriak histeris, bukannya menyebut asma Allah”.. Wow !! Cepat sekali menarik kesimpulan, karena beberapa waktu kemudian ada tanyangan video yang memperlihatkan ibu-ibu shallat diatas genteng waktu tsunami menerjang desanya !!
Kenapa berpikir bahwa itu Azab ? Apakah mereka benar-benah tau bahwa itu azab ? Ataukah ada sesuatu yang jauh lebih tinggi dari sekedah Azab ? Pernahkan para penceramah kehilangan anggota keluarga ? Saya pernah ! Dan saya tidak suka kalau musibah itu disebut Azab ! Karena saya yakin Allah mempunyai agenda lain, yang tidak mudah dimengerti oleh orang seperti penceramah-penceramah itu.
Harusnya mereka lebih arif dan bijaksana dalam mengambil kesimpulan. Seharusnya mereka seperti Ustadz Arifin Ilham dan AA Gym yang lebih arif dalam berbicara. Sampai akhirnya saya mendengar cerama tadi siang. Waktu pertama, saya sempat salah sangka karena si penceramah juga mengatakan bahwa di Aceh itu adalah azab Allah, lalu dia bercerita di suatu hadist kudsi yang kesimpulannya demikian,
Kadang, orang yang alim, baik dan shalleh dipanggil Allah karena dia mungkin dia mempunyai suatu kesalahan, dan dia dimatikan untuk menebus dosanya agar dia bisa langsung masuk syurga, sedangkan orang yang jahat, salah, penuh dengan dosa, tidak langsung dipanggil Allah, karena mungkin dia pernah melakukan perbuatan baik, maka dengan tidak dicabutnya nyawanya, maka Allah sudah menebus perbuatannya, dan dia tetap masuk neraka
Sama sekali ini bukan berarti bahwa yang selamat di Aceh mempunyai kesalahan lebih banyak dari yang meninggal, tapi mari kita lihat dari sisi yang lain. Mereka yang sudah menginggal, sekarang gak pusing mikirin utang, sakit, capek, perang, lapar, karena mereka sudah ada yang atur. Mereka sudah sampai ditempat tujuan kita semua. Dan yang masih selamat, mereka punya tugas, untuk lebih beramal, agar dapat menyusul yang sudah pergi ketempat yang lebih baik dari sini.
Allah mempunyai berbagai rahasia, strategy, rencana yang kadang kita tidak bisa membacanya. Tapi itulah rahasia Allah. Kita, sebagai manusia, jangan mudah menarik kesimpulan bahwa mereka diberi azab, bahkan ditambah dengan embel-embel cerita para nabi, karena mungkin Allah lebih sayang pada mereka ketimbang kita. Mungkin Allah mau mereka meninggal dengan syuhada dan membiarkan kita terus berjuang dalam untuk masuk syurga. Mungkin sebenarnya, derita Aceh adalah derita kita segamblang-gamblangnya, karena kitalah yang masih punya banyak kesempatan untuk memperbanyak dosa…
| Print article | This entry was posted by Arie Reynaldi Z on 14/Jan/2005 at 4:11 pm, and is filed under General. Follow any responses to this post through RSS 2.0. You can leave a response or trackback from your own site. |





