-= reynaldi.or.id = -
Demo mahasiswa.. tinggal tunggu aja.
Gue rasa tinggal tunggu aja demo mahasiswa bakal dicerca dan dihina ama masyarakat. Terus terang gue gak seneng banget ama cara anarkis model gini. Di detik ada foto2 mobil dibakar.. geblek.. sinting.. mahasiswa gitu ? Mmm.. no wonder lah.. kerjaan mereka juga maen cewe ama judi doang. Kenapa hari ini demonya ? Soalnya piala europe 2008 lagi gak ada pertandingan !! Tar tanggal 26-27 ama 30 kagak ada demo deh.. soalnya pada ngejudi.. dasar mahasiswa tolol.. Eh, gue juga ikut demo masuk DPR thn 1998, tapi dulu jelas siapa lawan siapa kawan.. Sekarang ? Pemerintah yang dibilang lawan ? Oiya, ada gak yang dihasilkan ama mahasiswa, misal suatu software, teknologi, ato apapun gitu ? Gak ada !! karena.. ya karena mereka bego, cuma bisa bikin politik praktis dan demo doang.. Otak kreativitas kebuang buat hal yang gak jelas. Ahh.. dasar bodoh..
| Print article | This entry was posted by Arie Reynaldi Z on 24/Jun/2008 at 7:06 pm, and is filed under General, Personal. Follow any responses to this post through RSS 2.0. You can leave a response or trackback from your own site. |




about 2 years ago
Mungkin kita sudah semakin tua dan lupa bahwa musuh kita tetap masih sama.
Saya sendiri juga prihatin dengan terjadinya bentrok, dan demo harus mengganggu masyarakat.
Namun, problemnya adalah bahwa kita masih menghadapi rezim yang sama,
yang tidak peka terhadap keadaan rakyat
yang buta mata dan hatinya
yang sampai sekarang masih bobrok karena korupsinya.
Demonstrasi dengan tertib justru menjadi olok-olok oleh pemerintah, dibilang “paling cuma begitu saja” kata wapres.
Sementara kita juga masih melihat setiap hari betapa bobroknya negeri ini karena para pemimpinnya sudah tidak mau lagi menggunakan hati nurani.
Korupsi masih merajalela, bahkan kejaksaan dan pengadilan juga penuh dengan mafia. Semnatar anggota DPR juga hanya mencari pamor dan popularitas, selain kekayaan.
Semnetara kita tahu mereka mengelolan dana hampir 1000 (seribu) Trilyun (T) setiap tahunnya. Dana yang sebenarnya sangat besar kalau mampu mengelolan secara efektif dan efisien.
Masih terdengar dan terlihat dengan jelas bagaimana proyek-proyek pemerintah ditenderkan dengan penuh akal-akalan dan kolusi dengan mitra pengusahanya. Sehingga jalan, jembatan, gedung-gedung sekolah dan lain sebagainya dibuat dengan kualitas yang buruk, karena proyeknya yang terlalu banyak dikorupsi.
Berapa kali kita demo anti korupsi, nyatanya diabaikan begitu saja. Karena demonya dianggap kecil.
Butuh orang yang benar=benar berani untuk terus menyuarakan negeri ini agar menjadi lebih baik. Dan mahasiswa adalah bagian dari kelompok yang memang masih berani melakukannya.
Kita, mantan aktifis, barangkali sudah mulaiu banyak pertimbangan dan untung rugi, sehingga tidak memiliki keberanian seperti dulu lagi. Untuk memperjuangkan sesuatu yang lebih baik.
Suara mahasiswa benar-benar tidak di dengar kalau demnstrasinya dengan cara yang tertib (terkesan disepelekan oleh pemerintah)
Sehingga menurutku masih wajar, dari pada justru rakyat jenuh dan tidak perduli dengan pemerintah malah bisa menjadi revolusi sosial.
Setidaknya pemerintah mau mendengar dengan lebih baik tuntutan itu, sehingga revolusi sosial yang penuh anrkisme dan kekacauan bisa di hindari. Dan kita tatp bisa menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang besar.
about 2 years ago
Musuh kita adalah diri kita sendiri pak. Siapapun yang ada di atas, kalo paradigma tetap “Rezim”, kita gak akan kemana2. Kita tetap dalam pemikiran “mereka musuh”. Sudahlah, kita sama2 bertanggung jawab sama semua keadaan ini. Apakah mas yakin mas gak pernah nyogok dalam thn 1998-2008 ? Gak pernah kasih uang pelicin ? Pernah bikin SIM gak ? Pake calo ? berapa biayanya ? Search SIM di blog ini, agar tau berapa biaya yang saya keluarkan buat bikin SIM dengan JUJUR (gak pake calo)..
Semua bertanggung jawab mas. Bisa banget kalo mahasiswa itu nanti berada di tempat seperti mereka (pemerintahan ato DPR) mereka juga akan melakukan hal yang sama, korupsi, kolusi, makan uang rakya. Kenapa ? Karena selama ini mereka pun sudah melakukan itu.. Itu mental mas.. Mental yang harus dirubah. Selama mental ‘meminta’, ‘konsumtif’, ‘mau menang sendiri’ selalu ada di kita, gak akan maju negara.
Jadi, menurut saya sederhana.. Ubah diri sendiri, jadi yang terbaik, tunjukin kalo kita bisa berkarya, buat software, buat program, buat portofolio yang hebat tanpa melupakan Sang Pencipta .. and the rest will follow.. kebaikan, kekayaan, kenyamanan di hati dan di badan… Period !
about 2 years ago
Ya, pada prinsipnya kita sama, bahwa perubahan harus kita mulai dari diri sendiri. Perubahan sebesar apapun itu.
Namun kita juga memiliki tanggung jawab sosial, tanggung jawab bernegara. Hanya berorientasi pada diri sendiri adalah kenaifan dan kurang beradab.
Filosofi yang pernah saya dapatkan :
Selalu meenyalahkan orang lain adalah tidak beradab
Selalu menyalahkan dan melihat ke dalam diri sendiri menjadi kurang beradab
Yang beradab adalah tidak menyalahkan siapapun, namun mampu melihat masalah yang sebenarnya.
Setiap hari kita melihat logika dan paradigma terbalik dari penyelenggara negara.
Mereka di bayar dan menikimati fasilitas pakai uang rakyat, dan seharusnya hal itu untuk melayani rakyat, tetapi?
Dalam kasus lain, berapa negara (rakyat) telah dirugikan oleh Syamsul Nursalim, yang kasusnya sekarang lagi rame-ramenya, karena ternayat ada jaksa yang disuap.
Hampir 18 Trilyun (DELAPAN BELAS TRILYUN RUPIAH), uang jumlahnya sangat SANGAT BESAR!!!
CUKUP untuk membuat sejahtera jutaan orang….!!!
Kita berharap agar Para Jaksa dan penyelenggara hukum dapat menindaklanjuti, karena rakyat telah membayar mereka dan segenap fasilitasnya. Namun apa yang terjadi?
Apa yang kita lakukan? Kenapa kita tidak berteriak? Kenapa kita diam?
Siapa yang rampok? Siapa yang preman?
Yang lebih berbahaya adalah preman berdasi atau preman berseragam dan bersenjata.
Lalu siapa pihak yang paling dirugikan?
ALhamdulillah, hampir semua perijinan, saya selalu berusaha untuk mengrusnya sendiri. Dari situlah saya semakin tahu, betapa negara kita telah dikelola dengan logika yang terbalik.
Betapa rumitnya dan susahnya mendapatkan pegawai negeri yang nota bene sebagai pelayan masyarakat, namun justru lebih banyak mempersulit. Gayanya seperti juragan atau bos saja. Padahal hak saya untuk mendapaytkan pelayanan. SIM, surat nikah, SIUP TDP, ijin ekspor dan lain-lain.
Berbagai kebutuhan bisnis yang seharusnya bisa cepat selelsai, namun saya harus meninggalkan bisnia 2 sampai 3 hari hanya untuk mengurusianya.
Untuk itulah, karena kita sedang menghadapi kebobrokan yang bersifat sistemik dan terorganisir, maka kita juga perlu mengorganisir diri. Membongkar paradigma kita sendiri dan juga orang lain, dan mendorong kembali agar negara kita ini memiliki prinsip yang benar.